Jumat, 13 Juni 2014

Sajak--Malu

dear senja,

kepada mu langit boleh mengadu
akan rindu yang tak melulu
terobati oleh riang mu
yang mengintip di balik awan, biru..

kepada mu hujan boleh menggerutu
akan hadirnya yang juga tak menentu
meski kau tau, kita bukan satu
tapi tak buat para penerka malu

dear senja,

kini apalagi yang kau mau
mengintip malu
atau riang di angkasa langit biru
membersamai hari dengan saga mu
senja...



Senin, 19 Mei 2014

kita bagai apa sayang ?

aku pernah mengagumi mu dalam diam
aku juga pernah mencemburui mu diam diam
tapi kini aku tau, kau memang berbeda.
siapalah aku ini jika di bandingkan dengan mu
jelas saja kita tak pernah satu lantaran kau sangat jauh di langit sana.
sedang aku berpijak pada bumi yang rendah ini.

aku tau kita memang berbeda.
kau adalah kau dengan segala yang ada padamu
aku adalah aku yang tak pernah bisa menyamaimu secuil pun

kini aku tau mengapa kita tak pernah satu ukh.
kau lakukan semua untukNya sedang aku tidak [belum].
aku tak pandai menjadi seperti mu
hingga akhirnya cemburu ini semakin menikam ku.
aku sakit tiap kali melihat mu di langit sana.
yahh... aku sakit lantaran rindu yang tak akan sampai pada mu ukhti sayang...
rindu yang tak mungkin kau pahami tanpa sua

kemarilah ukhti sayang.
hingga kau paham
Ana uhibbuki fillah ya ukhti


Jumat, 04 April 2014

sudah cukup berbaktikah kita ?

Tok tok...tokk.. tokk...

suara khas itu kembali menyapa ku di malam hari,lengkap dengan aroma sedap yang selintas tercium dari balik gerobak pikul pak tua.



"Bang .... tunggu"

panggil ku menghentikan langkah pak tua yang sepertinya sudah kelelahan.

" basonya dua mangkok ya pak "

" iya neng,.." sambil bergegas meracik dua mangkok baso yang sedaaapppppp.

" yang ini gak usah pake kecap pak, yang satunya lagi campur pakai toge juga".

kemudian hening..



tak ada percakapan di antara kami hingga kemudian aku memulainya.

" Bapak punya anak berapa "

" ada dua neng, yang sudah berkeluarga semua "

" hemm.... terus anak bapak tinggal dimana ?''

" anak saya semuanya tinggal di rumah mereka masing-masing neng, ada satu anak saya yang jadi Angkatan darat. Mereka tinggal di rumah dinas"

" ohh.. kok bapak gak tinggal bareng sama mereka pak ?"

" selama masih bisa bekerja, Bapak mah gak mau ngerepotin anak. Walaupun anak Bapak sudah besar-besar semua "

Masya Allah..... batin ku tersentak. Dan ku jawab dengan senyuman. Lalu ku lanjutkan tanyaku penasaran, sebelum dua mangkok baso sedap itu selesai dibuatnya.



" emang Bapak gak capek pak, tiap hari jualan seperti ini dan di pikul ?"

" yaa... namanya juga orang dagang neng, orang kerja. Mana ada yang gak capek. Tapi kalau kita nurutin rasa capeknya mah gak akan bisa ngapa-ngapain kita neng". jawabnya menjelaskan.



Dan lagi-lagi aku tersentak. Masya Allah, aku semakin kagum pada pria tua di hadapan ku ini.

tringg..... dua mangkok baso nan sedap telah selesai di buat.

" makasih yaa Pak "

" iya neng. sama-sama "..



tokk.... tokk...tokk....tokk....

berlalu.

Ia melanjutkan perjalanannya lagi.



Jakarta, 04 April 2014 22.23 WIB



aku jadi tau kalau mereka (para orang tua) tak pernah sekalipun ingin menyusahkan kita (anak-anaknya).

aku jadi tau kalau sayang mereka benar-benar tak hingga.

aku semakin yakin kalau mereka adalah para malaikat tak bersayap :')



seperti pak tua tadi, ia bahkan tak ingin tinggal bersama dengan anak-anaknya meski ia tau, penghasilannya sebagai tukang baso mungkin tak cukup menghidupi diri dan istri setiap hari. Ia hanya ingin tak merepotkan siapapun, termasuk anak kandungnya sendiri.



kawan....

sudahkah kita berbakti pada ayah dan bunda?

atau bahkan justru kita yang lebih sering menyakiti mereka ?





renungan untuk diri pribadi {khususnya}, dan kalian.--semoga bermanfaat.--